Cara Menjadi Tuan Atas Diri Sendiri
Dalam proses evaluasi para calon pimpinan perusahaan, kebanyakan penilaian akhir dari team penilai para calon kandidat adalah pada beberapa faktor yakni:
- Leadership Skill => Keahlian memimpin
- Teamwork Skill => Keahlian bekerjasama
- Analytical Skill => Ketrampilan menganalisa permasalahan
- Tactical & Strategic Skill => Keahlian taktis dan strategis
- Maturity Level => Level Kedewasaan, mencakup di dalamnya Emotional Intelegence, Managing Psychological War, dlsb.
Namun tidak semua orang, mampu menguasai dirinya sendiri secara penuh waktu dan terus-menerus (mastering him/her self). Adakalanya seseorang jatuh ke dalam pencobaan, entah itu godaan duniawi, ataupun godaan emosional, atau lainnya.
Sebenarnya, seseorang pimpinan tidak boleh tidak marah, namun juga tidak boleh terus-menerus marah karena marah itu harus ada level dan kontrolnya secara tepat dan benar. Dan adalah wajib seseorang jika menyandang posisi strategis dan penting untuk tetap sadar diri, waras, dan terkontrol dalam meluapkan amarahnya.
Emosi itu sendiri sebenarnya bisa dikontrol, dan dilatih untuk terkontrol. Bahkan yang namanya godaan nafsu duniawi dan badaniah juga bisa dikontrol secara baik dan benar jika kita benar-benar mau berlatih untuk sadar diri 100%.
Latihan untuk mengontrol dan menguasai diri sendiri, bisa dengan berbagai cara dan juga bermacam metoda kombinasi. Namun dalam step-stepnya ada rumusan baku yang perlu dipahami, yakni:
- Kenali diri sendiri terlebih dahulu. Sebelum mencoba menguasai keadaan dan juga diri sendiri, cobalah untuk mengenali diri sendiri, batasan tempramentalnya, batasan godaannya, dan lain sebagainya. Karena setiap orang ada limitnya sendiri-sendiri, dan hanya dia sendiri yang tahu pada titik mana dia goyah.
- Belajar menerima segala kelemahan dan ketidakberdayaan itu. Hanya dengan mengakui dan menerima kekurangan kita dan segala kelemahan kita terhadap godaan dari luar dan dari dalam diri sendiri, kita bisa memahami diri kita dan menguasainya.
- Belajar mengontrol kehendak dan fokus pada titik yang ingin dicapai. Hal ini umumnya luar biasa sulit, dan memang bagian terberat dalam latihan penguasaan diri. Kebanyakan para ahli spiritual dan kebathinan belajar atau berlatih dengan bersemedi sambil menatap mata pada cermin berlama-lama tanpa berkedip atau melihat nyala lilin tanpa berkedip, atau berlatih meditasi dengan duduk bersimpuh atau duduk di atas kursi paku / tempat tidur paku. Namun sebenarnya tidak perlu hal ekstrim seperti yang dilakukan para fakir spritual, ada banyak cara lainnya, seperti belajar fokus pada bacaan di tengah keramaian juga cara yang baik. Atau belajar mengendalikan nafsu lapar mata untuk tidak menyemil, juga latihan yang bagus.
- Melatih ketrampilan penguasaan diri dalam medan sebenarnya. Ada pepatah, yang mengatakan, practice what you learn. Tanpa ujian diri sendiri atau mencoba menyeburkan diri dalam godaan yang lebih besar dan lebih nyata, semua teori tadi sia-sia belaka. Seorang pertapa tidak bisa disebut ahli spritual jika tidak bisa bertahan dari godaan nafsu duniawi sepanjang malam, atau seorang penegak hukum tidak bisa dikatakan mampu menguasai keadaan jika terpancing oleh kata-kata demonstran.
- Yang terakhir, menyadari bahwa itu semua dilakukan bukan untuk uji tahan godaan dan cobaan, akan tetapi dilakukan dengan penuh rasa cinta akan tanggung jawab yang dibebankan kepadanya. Ini paling penting, karena semua keteguhan iman dan kontrol diri akan sia-sia jika tanpa rasa kecintaan akan tanggung jawab yang diamanatkan.
0 comments :
Posting Komentar